2.1 Klasifikasi dan Morfologi Paprika
Menurut klasifikasi dalam tata nama (sistem tumbuhan) tanaman paprika termasuk kedalam:
Divisi : Spermatophyta (tanaman berbiji)
Sub divisi : Angiospermae (biji berada di dalam buah)
Kelas : Dicotyledonae (biji berkeping dua atau biji belah)
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae (terung-terungan)
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum annuum L. var. grossum
(Cahyono, 2007)
Secara morfologi, bagian penting tanaman cabai paprika yaitu:
1. Batang
Tanaman cabai paprika memiliki batang yang keras dan berkayu, berbentuk
bulat, halus, berwarna hijau gelap, dan memiliki percabangan yang
beruas-ruas serta setiap ruas ditumbuhi daun dan tunas. Percabangan pada
tanaman paprika lebih rimbun dibandingkan dengan percabangan pada cabai
rawit atau cabai jenis lain (Cahyono, 2007).
2. Daun
Daun
cabai paprika berbentuk bulat telur dengan ujung runcing dan tepi daun
rata (tidak bergerigi/berlekuk). Daun merupakan daun tunggal dan
memiliki tulang daun menyirip. Daun memiliki tangkai tunggal yang
melekat pada batang atau cabang. Daun tanaman cabai paprika memiliki
ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan daun tanaman cabai rawit
(Cahyono, 2007).
3. Bunga
Bunga
cabai paprika merupakan bunga tunggal dan berbentuk bintang, dengan
mahkota bunga berwarna putih. Bunga tumbuh menunduk pada ketiak daun.
Penyerbukan bunga terjadi melalui penyerbukan sendiri namun dapat juga
terjadi penyerbukan silang, dengan tingkat keberhasilan 56% (Cahyono,
2007).
4. Buah
Buah
akan terbentuk setelah terjadi penyerbukan. Buah cabai paprika memiliki
keanekaragaman bentuk, ukuran, warna, dan rasa. Pada umumnya, buah
cabai paprika berbentuk seperti tomat, tetapi lebih bulat dan pendek,
atau berbentuk seperti bel dengan permukaan bergelombang. Buah paprika
berongga pada bagian dalamnya. Ukuran buah bervariasi, ada yang ukuran
besar, panjang, atau pendek. Buah berdaging tebal, agak manis dan tidak
pedas, walaupun memiliki aroma pedas (Cahyono, 2007).
5. Biji
Biji
cabai paprika terdapat dalam jumlah sedikit, berbentuk bulat pipih dan
berwarna putih kekuningan. Ukuran biji cabai paprika lebih besar
dibandingkan dengan biji cabai rawit. Biji-biji ini dapat digunakan
sebagai bibit dalam perbanyakan tanaman (Cahyono, 2007).
6. Akar
Tanaman
cabai paprika memiliki akar tunggang yang tumbuh lurus ke pusat bumi
dan serabut akar yang tumbuh menyebar ke samping. Perakaran tanaman
tidak dalam, dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang
gembur, porous, dan subur (Cahyono, 2007).
2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Paprika
1. Keadaan iklim
Keadaan iklim yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman paprika meliputi suhu, kelembapan udara, curah hujan, dan cahaya matahari.
a. Suhu
Tanaman cabai paprika dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi pada suhu 21oC – 27oC pada siang hari dan 13oC – 16oC pada malam hari. Suhu yang tinggi dapat menyebabkan gugur bunga, gugur buah, dan gugur tunas. Tanaman paprika masih dapat tumbuh pada suhu 30oC, namun pada suhu 38oC pada siang hari dan 32oC pada malam hari, semua bunga dan bakal buah gugur (Cahyono, 2007).
b. Kelembapan Udara
Agar
dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi, tanaman cabai paprika
memerlukan kelembapan udara sekitar 80%.Kelembapan udara juga
mempengaruhi proses penyerapan unsur hara, terutama unsur N dan P
(Cahyono, 2007).
(Cahyono, 2007).
c. Curah Hujan
Curah
hujan yang sesuai untuk tanaman cabai paprika adalah sekitar 250
mm/bulan. Di daerah yang memiliki curah hujan tinggi, tanaman cabai
paprika masih bisa berproduksi dengan baik, jika disertai dengan
drainase yang baik dan jarak tanam yang lebih renggang (Cahyono, 2007).
2. Keadaan Tanah
Jenis
tanah yang paling cocok untuk budidaya cabai paprika adalah tanah
mediteran dan aluvial. Selain sifat-sifat fisik, kimia dan biologi yang
mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah ketinggian tempat dan derajat
kemiringan (Cahyono, 2007).
a. Sifat Fisik, Kimia, dan Biologi Tanah
Sifat
fisik tanah yang harus diperhatikan dalam budidaya cabai paprika adalah
tekstur dan struktur tanah. Tanah yang sesuai untuk budidaya tanaman
cabai paprika adalah tanah lempung berpasir atau liat berpasir dan tanah
yang memiliki struktur remah atau gembur.
Sifat
kimia tanah yang harus diperhatikan adalah derajat keasaman tanah dan
salinitas. Derajat keasaman tanah yang cocok bagi pertumbuhan tanaman
cabai paprika berkisar antara 6,0 – 7,0 dan pH optimal adalah 6,5.
Sifat
biologi tanah yang harus diperhatikan adalah kandungan bahan organik
tanah serta jumlah dan aktivitas organisme tanah. Jika banyak mengandung
bahan organik dan organisme tanah, maka tanah akan memiliki sifat
biologi yang baik (Cahyono, 2007).
b. Ketinggian Tempat
Ketinggian
tempat sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, pembentukan
hasil, dan masa panen. Lahan yang baik untuk budidaya tanaman paprika
adalah dataran tinggi yang memiliki ketinggian lebih dari 700 m dpl.
Sedangkan yang paling baik adalah dataran dengan ketinggian 1.000 m –
1.500 m dpl (Cahyono, 2007).
2.3 Teknik Budidaya
2.3.1 Persiapan Rumah Tanaman
Pada
umumnya petani paprika di Indonesia menggunakan rumah tanaman yang
rangkanya terbuat dari bambu. Untuk kondisi yang suhunya relatif tinggi,
dinding rumah tanaman yang paling cocok adalah yang terbuat dari bahan
kasa nilon. Rumah tanaman hendaknya berarah Timur- Barat, searah dengan
perjalanan sinar matahari. Ukuran luas satu bangunan rumah kasa maksimal
1000 m2
(Gunadiet al., 2006).
(Gunadiet al., 2006).
2.3.2 Pemilihan Varietas
Ada
beberapa varietas paprika yang saat ini ada di pasaran. Varietas
paprika yang berwarna merah antaralain adalah Edison, Chang, Spartacus,
Athena dan Spider. Selain itu ada varietas yang berwarna kuning
antaralain Sunny, Capino, Goldflame dan Manzania. Sedangkan yang
berwarna orange antaralain Magno dan Leon. Ada beberapa pertimbangan
dalam memilih kultivar yaitu berdasarkan bobot buah dan bentuk buah (Tabel 1 dan 2).
|
Bobot Buah (gram)
|
Varietas
|
|
150-200
|
Edison, Spider
|
|
>200
|
Chang, Spartacus dan Athena
|
Sumber : Moekasan et al. (2008)
|
Bentuk Buah
|
Kultivar
|
|
Blok (blocky) atau Lonceng (bell)
|
Athena, Spartacus, Edison, Sunny, Magno, Goldflame
|
|
Lonjong (lamujo)
|
Chang, Capino
|
Sumber : Moekasan et al. (2008)
2.3.3 Persemaian
Penyemaian
benih paprika dapat dilakukan di baki persemaian atau di tempat
persemaian lainnya. Media yang dapat digunakan adalah arang sekam danrockwool.
Setelah benih dimasukan pada media semai dan ditutup dengan kertas tisu
maka baki persemaian disimpan di dalam lemari persemaian pada suhu
20-25 oCdengan kelembaban udara 70-90%. Pada umur lima sampai tujuh hari setelah semai, kertas tisu dibuka dan lampu pada lemari persemaian mulai dinyalakan. Pada saat tanaman berumur 12-15 hari setelah semai, tanaman dipindahakan ke dalam polibag pembibitan dan ditempatkan diluar lemari persemaian. Pada hari ke-4 setelah bibit dipindahkan ke polibag pembibitan, bibit tersebut disiram dengan larutan hara AB Mix dengan EC 1,5 mS/cm sebanyak
3-4 kali sehari (Moekasan, 2002).
20-25 oCdengan kelembaban udara 70-90%. Pada umur lima sampai tujuh hari setelah semai, kertas tisu dibuka dan lampu pada lemari persemaian mulai dinyalakan. Pada saat tanaman berumur 12-15 hari setelah semai, tanaman dipindahakan ke dalam polibag pembibitan dan ditempatkan diluar lemari persemaian. Pada hari ke-4 setelah bibit dipindahkan ke polibag pembibitan, bibit tersebut disiram dengan larutan hara AB Mix dengan EC 1,5 mS/cm sebanyak
3-4 kali sehari (Moekasan, 2002).
2.3.4 Persiapan Tanam
1. Media dan wadah tanam
Media tanam yang dapat digunakan untuk paprika adalah arang sekam, rockwool, sabut kelapa dan pasir. Wadah yang dapat digunakan adalah polibag dengan diameter 30 cm atau slab (bantalan) ukuran 0,8 m x 0,25 m. Pada setiap slab dibuat 2 lubang tanam dengan jarak 30, 40 atau 50 cm dan jarak antar barisan 100-120 cm (Moekasan et al., 2008).
2. Persiapan dan pemeliharaan rumah tanaman
Lantai
rumah tanaman harus dilapisi dengan plastik mulsa. Pada tujuh hari
sebelum penanaman, dilakukan sterilisasi rumah tanaman dengan
penyemprotan Formalin 3% pada dinding, tanah dan mulsa pastik dan pada
tiga hari sebelum tanam, media tanam disemprot dengan insektisida
Fipronil (1,5 ml/l) serta dijenuhkan dengan larutan hara (EC 1,5) (Gunawan, 2007).
2.3.5 Penanaman
Sehari sebelum penanaman, harus dilakukan penjenuhan media tanam dengan
pupuk AB Mix pH 5,8 dan EC 2. Jika pada tiap tanaman akan dibentuk
2 cabang utama maka setiap polibagditanami 2 tanaman atau kalau menggunakan slab maka setiap slab ditanamai 4 tanaman dengan jarak 1,1 -1,2 m dan jarak dalam barisan 0,4-0,5 m sedangkan jika akan dibentuk 3-4 cabang utama per tanaman, maka setiap polibag ditanami 1 tanaman atau setiap slab ditanami
2 tanaman dengan jarak antar barisan 1,1 – 1,2 m dan jarak dalam barisan 0,3 m (Moekasanet al., 2008).
2 cabang utama maka setiap polibagditanami 2 tanaman atau kalau menggunakan slab maka setiap slab ditanamai 4 tanaman dengan jarak 1,1 -1,2 m dan jarak dalam barisan 0,4-0,5 m sedangkan jika akan dibentuk 3-4 cabang utama per tanaman, maka setiap polibag ditanami 1 tanaman atau setiap slab ditanami
2 tanaman dengan jarak antar barisan 1,1 – 1,2 m dan jarak dalam barisan 0,3 m (Moekasanet al., 2008).
2.3.6 Pemeliharaan Tanaman
1. Pemasangan Penyangga Tanaman(pengajiran)
Pengajiran
dilakukan saat tanaman berumur 1- 2 minggu dengan menggunakan tali rami
yang ujungnya diikatkan ke kawat horizontal di langit-langit greenhouse.
2. Penyiraman dan Pemupukan
Penyiraman
dan pemberian hara pada sistem tanaman hidroponik dilakukan
bersama-sama, yang dikenal dengan istilah fertigasi. Penyiraman dan
pemberian hara pada tanaman paprika dapat dilakukan secara manual (Tabel 3) dan secara irigasi tetes (Tabel 4).
|
Umur tanaman (MST)
|
Waktu pemberian (WIB)
|
Volume (ml/tan)
|
EC (mS/cm)
| ||
|
Suhu < 30
Kelembaban > 50%
|
Suhu > 30
Kelembaban < 50%
|
Masuk
|
Keluar
| ||
|
1 - < 6
(fase vegetativ I)
|
07.00
09.00
11.00
13.00
15.00
|
07.00
09.00
10.30
12.00
13.30
15.00
|
100
100
100
100
100
100
|
1,6-1,7
1,6-1,7
1,6-1,7
1,6-1,7
1,6-1,7
1,6-1,7
|
1,3-1,8
1,3-1,8
1,3-1,8
1,3-1,8
1,3-1,8
1,3-1,8
|
|
6 – 8
(fase vegetatif II/berbunga dan mulai berbuah)
|
07.00
09.00
11.00
13.00
15.00
|
07.00
09.00
10.30
12.00
13.30
15.00
|
150
150
150
150
150
150
|
1,8-1,9
1,8-1,9
1,8-1,9
1,8-1,9
1,8-1,9
1,8-1,9
|
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
|
|
>8
(fase generatif / pematangan buah
|
07.00
09.00
11.00
13.00
15.00
|
07.00
09.00
10.30
12.00
13.30
15.00
|
250
250
250
250
250
250
|
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
|
2,1-2,2
2,1-2,2
2,1-2,2
2,1-2,2
2,1-2,2
2,1-2,2
|
Sumber : Moekasan (2002)
Keterangan : MST = Minggu setelah tanam
EC = Electro conductivity
|
Umur tanaman
|
Volume (ml/tanaman/hari)
|
EC
| |
|
masuk
|
Keluar
| ||
|
Fase vegetatif I
(1- < 6 MST)
|
600
|
1,6 – 1,7
|
1,3 – 1,8
|
|
Fase vegetatif II
(> 6 – 8 MST) berbunga dan mulai berbuah
|
900
|
1,8 – 1,9
|
2,0 – 2,1
|
|
Fase generatif (>8 MST) pematangan buah
|
1.500
|
2 – 2,1
|
2,1 – 2,2
|
Sumber : Gunadi et al. (2006)
Pada
saat ini, pupuk untuk tanaman paprika sudah tersedia di pasaran dalam
bentuk siap pakai yang terdiri atas dua campuran yaitu pupuk A dan B,
disebut dengan AB Mix. Kandungan unsur hara dalam pupuk AB Mix untuk
tanaman paprika (Tabel 5).
|
No.
|
Nama Unsur
|
Kandungan unsur
|
Bobot (g)
|
| |
Pupuk A
| ||
|
1.
2.
3.
|
Kalsium ammonium nitrat (CaNO3)2
Kalium nitrat (KNO3)
Fe-kelat (Fe-EDTA 13%)
|
Ca = 18%, N-NO3 = 14,2%, N-NO4 =1,3%
K = 39%, N-NO3 = 14%
Fe = 13,2%
|
12.000
5.000
100
|
|
Jumalah A
|
17.100
| ||
| |
Pupuk B
| ||
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
|
Kalium di-hidro fosfat (KH2PO4)
Ammonium sulfat (NH4)2SO4
Kalium sulfat (K2SO4)
Magnesium sulfat (MgSO4.7H2O)
Mangan sulfat (MnSO4-4H2
Tembaga sulfat (MnSO4.4H2O)
Seng sulfat (ZnSO4.7H2O)
Asam Borat (H3BO3)
Ammonium hepta-molibdat (NH4)6Mo7O24.4H2O
|
K = 28,7%, P = 22,8%
N-NH4 = 21%, S = 24%
K = 44,8%, S = 18%
Mg = 9,7%, S = 13%
Mn = 25%
Cu = 26%
Zn = 23%
B = 18%
Mo = 50%
|
5.000
2.000
7.000
7.000
150
8
27
75
3
|
|
Jumlah B
|
21.263
| ||
|
Jumlah A + B
|
38.363
| ||
Sumber : Moekasan (2002)
3. Pemasangan Perangkap Organisme Pengganggu Serangga (OPT)
Pada
umumnya serangga hama tertarik kepada warna kuning, tetapi thrips lebih
tertarik kepada warna biru dan putih (Terry, 1997 dalam Moekasan,
2008). Oleh karena itu perangkap berwarna kuning, putih atau biru dapat
digunakan untuk memerangkap serangga hama. Perangkap lekat warna biru,
putih atau kuning, sebanyak 1 buah per 2 m2 dipasang sejak penanaman. Perangakap tersebut dipasang di atas kanopi tanaman (Moekasanet al., 2008).
4. Pemasangan Serbuk Belerang
Untuk
mencegah serangan penyakit tepung dipasang serbuk belerang yang
diletakan pada belahan bambu sebanyak 1 belahan bambu per 2 m2.
Dapat pula dilakukan pengasapan dengan pembakaran serbuk belerang
seminggu sekali. Pengasapan harus dilakukan stelah pukul 17.00. Jika
pengasapan menggunakan alat sulfur, evaporator cukup dipasang 1 buah
untuk greenhouse seluas 500 m2. Alat ini hanya dinyalakan pada malam hari selama 4 jam mulai pukul 19.00 setiap hari (Moekasanet al., 2008).
5. Pembentukan Cabang Utama
Tanaman
paprika membentuk cabang ketika berumur 3-4 minggu setelah tanam.
Ditetapkan hanya dua atau tiga cabang utama yang dipelihara dalam satu
tanaman (Cahyono, 2007).
6. Seleksi Buah
Seleksi
buah adalah membuang buah yang pertumbuhannya kurang baik dan
memelihara buah yang tumbuh dengan baik. Seleksi buah dilakukan dengan
tujuan untuk mendapatkan hasil dan mutu yang optimal.
Penyeleksian
buah pertama dilakukan pada umur 6 – 7 MST. Buah yang tumbuh
berdempetan salah satunya harus dibuang. Pada umur 8 – 10 MST dilakukan
penyeleksian buah kedua dengan menyisakan sebanyak 3 – 4 buah per pohon
(Moekasan, 2002).
7. Pemangkasan Tunas Air
Pemangkasan
tunas air (pewiwilan) dilakukan sesuai dengan kebutuhan, paling cepat
dilakukan seminggu sekali. Ketika melakukan pewiwilan, tangan pekerja
harus dilumuri lebih dahulu dengan larutan susu skim (tanpa lemak)
dengan konsentrasi 200 g/l. Setiap berpindah dari satu tanaman ke
tanaman lain, tangan pekerja selalu harus dicelupkan kedalam larutan
susu tersebut. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus
(Moekasan et al., 2008).
8. Pengendalian Hama dan Penyakit
Metode
pengendalian hama dan penyakit yang dianggap paling efektif adalah
menggunakan bahan kimia atau pestisida kimia. Penggunaan pestisida
berdasarkan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada tanaman
paprika harus berdasarkan pada enam tepat, yaitu tepat sasaran, tepat
mutu, tepat jenis pestisida, tepat waktu, tepat dosis atau tepat
konsentrasi dan tepat cara penggunaan (Direktorat Jenderal Bina Produksi
Hortikultura, 2002).
1) Tepat sasaran
Pestisida yang digunakan harus berdasarkan pada jenis OPT (organisme pengganggu tanaman) tersebut. Insektisida digunakan untuk mengendalikan serangan
hama, akarisida untuk mengendalikan tungau, fungisida untuk
mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur, nematisida untuk mengendalikan
nematode, rodentisida untuk mengendalikan tikus, bakterisida untuk
mengendalikan bakteri dan herbisida untuk mengendalikan gulma.
2) Tepat mutu
Pestisida
yang digunakan harus bermutu bahan aktifnya. Oleh karena itu dipilih
pestisida yang terdaftar dan diijinkan oleh Komisi Pestisida.
3) Tepat jenis pestisida
Pestisida
yang digunakan harus diketahui efektif terhadap hama dan penyakit
sasaran tetapi tidak menggangu perkembangan dan peranan organisme berguna.
4) Tepat waktu penggunaan
Waktu yang tepat untuk melakukan penyemprotan adalah pada sore hari sekitar pukul 17.00 ketika suhu udara kurang dari 30 0C dan kelembaban udara berkisar antara 50-80%.
5) Tepat dosis atau konsentrasi
Dosis
atau konsentrasi formulasi pestisida yang lebih rendah atau lebih
tinggi dari yang dianjurkan akan memicu timbulnya generasi organisme
pengganggu tanaman yang akan kebal terhadap pestisida yang digunakan.
Dengan demikian penggunaan dosis atau konsentrasi formulasi harus sesuai
yang direkomendasikan pada label kemasannya.
6) Tepat cara penggunaan
Cara aplikasi pestisida yang umum digunakan pada tanaman paprika adalah disemprotkan.
Beberapa
hama dan penyakit yang sering menyerang dan mengakibatkan kerugian
besar pada produksi cabai paprika adalah sebagai berikut:
1. Hama
a. Trips (Thrips capsici)
Trips
menyerang daun-daun muda, dengan cara menggaruk dan mengisap cairan
daun. Gejala serangan ditandai dengan bagian bawah daun yang terserang
berwarna keperakan, selanjutnya berubah menjadi kecoklatan. Daun tampak
keriput, keriting dan melengkung ke atas. Di samping menyerang daun,
hama trips dapat pula menyerang buah paprika sehingga dapat menurunkan
kualitas buah.
Pengendalian
trips pada tanaman paprika dapat dilakukan dengan sistem pengendalian
hama terpadu yaitu dengan cara penggunaan mulsa plastik hitam perak,
pembuangan mahkota bunga dan penjarangan buah serta penyemprotan
insektisida (Moekasan et al., 2008).
b. Ulat grayak (Spodoptera litura F.)
Ulat
grayak mempunyai warna yang bervariasi tergantung pada jenis
makanannya, tetapi cirri utama ulat grayak adalah terdapatnya kalung
hitam pada segmen abdomen yang keempat. Gejala serangannya ditandai
dengan ulat muda memakan daun dengan meninggalkan epidermis sehingga
daun menjadi transparan. Ulat tua memakan seluruh bagian daun dan yang
ditinggalkan hanya tulang daunnya saja (Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, 2006).
Menurut
Harpenas dan Dermawan, 2009 bahwa pengendalian ulat grayak pada tanaman
paprika yang dilakukan dengan sistem PHT adalah sebagai berikut:
1) Mekanis, yaitu dengan mengumpulkan kelompok telur dan larva, kemudian dimusnahkan.
2) Kutur
teknis, yaitu menjaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa-sisa tanaman
yang menjadi tempat persembunyian hama serta melakukan rotasi tanaman.
3) Kimiawi, yaitu penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis, seperti Dipel, Florbac, Bactospeine, dan Thuricidae.
c. Tungau teh kuning (Polyphagotarsonemus latus)
Gejala
serangan ditandai dengan timbulnya warna seperti tembaga pada permukaan
bawah daun, tepi daun mengeriting, daun menjadi kaku dan melengkung ke
bawah. Pada serangan berat, tunas dan bunga gugur.
Jika
intensitas serangan tungau telah mencapai ambang pengendalian yaitu
kerusakan tanaman sebesar 15% maka tanaman paprika disemprot dengan
akarisida, yang efektif seperti Propargit (Omite 570 EC) dan Dikofol
(Kelthane 200 EC) (Moekasan et al., 2008).
d. Kutu daun persik (Myzus persicae)
Kutu
daun persik disebut pula kutu daun tembakau. Kutu daun menyerang
daun-daun muda dengan cara menusuk dan menghisap cairan daun. Gejala
serangannya adalah daun keriput, terpelintir dan berwarna kekuningan.
Jika populasi kutu daun persik telah mencapai ambang pengendalian, yaitu
7 ekor/10 daun, maka pertanaman disemprot dengan insektisida Fipronil (Regent 50 EC) atau Alfametrin (Fastac 15 EC) (Gunadi et al.,2006).
7 ekor/10 daun, maka pertanaman disemprot dengan insektisida Fipronil (Regent 50 EC) atau Alfametrin (Fastac 15 EC) (Gunadi et al.,2006).
e. Lalat penggorok daun (Liriomyza sp.)
Lalat
penggorok daun bersifat polifag. Serangan serangga dewasa pada daun
ditandai oleh bercak-bercak putih. Serangan berat akan mengakibatkan
daun mengering seperti terbakar. Pengendalian dengan sistem PHT
dilakukan dengan pemasangan perangkap lekat warna kuning di atas kanopi
tanaman dan penggunaan insektisida yang selektif dan efektif seperti
Kartap Hidroksida atau Siromazin (Moekasan et al., 2008).
2. Penyakit
a. Penyakit tepung
Penyakit tepung disebabkan oleh cendawan Oidiopsis capsici. Gejala serangan ditandai dengan adanya lapisan tepung berwarna putih terutama menempel pada bawah daun.
Penyebaran
atau penularan penyakit tepung dapat terjadi melalui angin, peralatan
pertanian yang telah terinfeksi. Pengendalian dapat dilakukan dengan
pemasangan dan pengasapan dengan pembakaran serbuk belerang,
penyemprotan fungisisda yang berbahan aktif Fenarimol atau Heksakonazol
(Moekasan, 2002).
b. Penyakit layu fusarium
Penyakit layu fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium
spp. Gejala serangan ditandai dengan layunya tanaman mulai dari bagian
bawah. Anak tulang daun menguning dan bila terinfeksi terus berkembang,
dalam dua sampai tiga hari setelah infeksi tanaman akan menjadi layu.
Tanaman paprika yang terserang penyakit layu fusarium segera dicabut dan
dimusnahkan. Fungisida yang efektif dan dianjurkan adalah Benomil
(Benlate) atau Klorotanil (Daconil 75 WP). Larutan fungisida tersebut
disiramkan ke perakaran dengan dosis 100 ml per polibag (Moekasan,
2002).
c. Penyakit bercak buah (Colletotrichum spp.)
Bercak buah cabai sering disebut penyakit antraknos atau patek. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum spp.Gejala awal serangan ditandai dengan terbentuknya bercak cokelat – kehitaman,
kemudian meluas menjadi busuk lunak. Tanaman yang terserang harus
segera dimusnahkan. Penyemprotan pestisida dapat dilakukan dengan
fungisida seperti Antracol, Dithane M-45, dan Daconil (Harpenas dan
Dermawan, 2009).
2.3.7 Panen dan Pascapanen
1) Panen
Menurut Gunadi et al. (2006), waktu panen tanaman paprika tergantung pada kondisi pertanaman, biasanya tanaman paprika dapat dipanen mulai umur
2 sampai 2,5 bulan. Paprika dipanen bila buahnya telah mencapai ukuran maksimal, hampir matang, tetapi warnanya masih hijau.
2 sampai 2,5 bulan. Paprika dipanen bila buahnya telah mencapai ukuran maksimal, hampir matang, tetapi warnanya masih hijau.
Menurut
Hadinata (2004), paprika hendaknya dipanen pada pagi hari ketika suhu
udara di dalam rumah kasa masih rendah dan kelembaban udara masih cukup
tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi penguapan agar buah tidak
layu atau keriput. Pemanenan hendaknya menggunakan pisau atau gunting
yang tajam dan sebelum digunakan dicelupkan terlebih dahulu ke dalam
larutan susu skim.
2) Pascapanen
a. Sortasi dan Grading
Sortasi
merupakan kegiatan untuk memisakan buah cabai paprika yang sehat dari
buah cabai paprika yang rusak. Dari hasil sortasi tersebut kemudian
dilakukan pengelompokan buah cabai paprika menjadi beberapa kelas mutu (grading)
berdasarkan standar mutu, menurut ukuran buah dan tingkat kerusakan
buah. Hadinata (2004) menyatakan bahwa ada empat kategori ukuran buah
paprika (Tabel 6).
|
Kategori
|
Diameter (cm) buah
|
Bobot(gram) buah
|
|
Kecil
|
6,5 – 8
|
120 – 160
|
|
Sedang
|
>8 – 9,5
|
> 160 – 200
|
|
Besar
|
>9,5 – 11
|
>200 – 250
|
|
Sangat besar
|
>11
|
>250
|
b. Pengemasan dan Pengangkutan
Paprika dapat dikemas dalam kotak karton berventilasi dengan kapasitas 5 kg. Jika paprika akan dikirim ke tempat yang jauh, kendaraan yang digunkan adalah kendaraan berpendingin (7 – 12 oC) agar kesegaran buah tetap terjaga (Moekasan et al., 2008).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar