Rabu, 30 Oktober 2013

CARA BUDIDAYA KACANG TANAH

CARA BUDIDAYA KACANG TANAH YANG BAIK DAN BENAR


CARA BUDIDAYA KACANG TANAH YANG BAIK DAN BENARCARA BUDIDAYA KACANG TANAH YANG BAIK DAN BENAR
CARA BUDIDAYA KACANG TANAH YANG BAIK DAN BENAR
( Arachis hypogeae L.)
1. SEJARAH SINGKAT
Kacang tanah merupakan tanaman pangan berupa semak yang berasal dari Amerika Selatan, tepatnya berasal dari Brazilia. Penanaman pertama kali dilakukan oleh orang Indian (suku asli bangsa Amerika). Di Benua Amerika penanaman berkembang yang dilakukan oleh pendatang dari Eropa. Kacang Tanah ini pertama kali masuk ke Indonesia pada awal abad ke-17, dibawa oleh pedagang Cina dan Portugis. Nama lain dari kacang tanah adalah kacang una, suuk, kacang jebrol, kacang bandung, kacang tuban, kacang kole, kacang banggala. Bahasa Inggrisnya kacang tanah adalah “peanut” atau “groundnut”.
2. JENIS TANAMAN
Sistematika kacang tanah adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae atau tumbuh-tumbuhan
Divisi : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji
Sub Divisi : Angiospermae atau berbiji tertutup
Klas : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua
Ordo : Leguminales
Famili : Papilionaceae
Genus : Arachis
Spesies : Arachis hypogeae L.; Arachis tuberosa Benth.; Arachis guaramitica Chod & Hassl.; Arachis idiagoi Hochne.; Arachis angustifolia (Chod & Hassl) Killip.; Arachis villosa Benth.; Arachis prostrata Benth.; Arachis helodes Mart.; Arachis marganata Garden.; Arachis namby quarae Hochne.; Arachis villoticarpa Hochne.; Arachis glabrata Benth. Varietas-varietas kacang tanah unggul yang dibudidayakan para petani biasanya bertipe tegak dan berumur pendek (genjah). Varietas unggul kacang tanah ditandai dengan karakteristik sebagai berikut:
a)
Daya hasil tinggi.
b)
Umur pendek (genjah) antara 85-90 hari.
c)
Hasilnya stabil.
d)
Tahan terhadap penyakit utama (karat dan bercak daun).
e)
Toleran terhadap kekeringan atau tanah becek.
Varietas kacang tanah di Indonesia yang terkenal, yaitu:
a)
Kacang Brul, berumur pendek (3-4 bulan).
b)
Kacang Cina, berumur panjang (6-8 bulan).
c)
Kacang Holle, merupakan tipe campuran hasil persilangan antara varietas-varietas yang ada. Kacang Holle tidak bisa disamakan dengan kacang “Waspada” karena memang berbeda varietas.
3. MANFAAT TANAMAN
Di bidang industri, digunakan sebagai bahan untuk membuat keju, mentega, sabun dan minyak goreng. Hasil sampingan dari minyak dapat dibuat bungkil (ampas kacang yang sudah dipipit/diambil minyaknya) dan dibuat oncom melalui fermentasi jamur. Manfaat daunnya selain dibuat sayuran mentah ataupun direbus, digunakan juga sebagai bahan pakan ternak serta pupuk hijau. Sebagai bahan pangan dan pakan ternak yang bergizi tinggi, kacang tanah mengandung lemak (40,50%), protein (27%), karbohidrat serta vitamin (A, B, C, D, E dan K), juga mengandung mineral antara lain Calcium, Chlorida, Ferro, Magnesium, Phospor, Kalium dan Sulphur.
4. SENTRA PENANAMAN
Di tingkat Internasional mula-mula kacang tanah terpusat di India, Cina, Nigeria, Amerika Serikat dan Gombai, kemudian meluas ke negara lain. Di Indonesia kacang tanah terpusat di Pulau Jawa, Sumatra Utara, Sulawesi dan kini telah ditanam di seluruh Indonesia.
5. SYARAT PERTUMBUHAN
5.1. Iklim
a)
Curah hujan yang sesuai untuk tanaman kacang tanah antara 800-1.300 mm/tahun. Hujan yang terlalu keras akan mengakibatkan rontok dan bunga tidak terserbuki oleh lebah. Selain itu, hujan yang terus-menerus akan meningkatkan kelembaban di sekitar pertanaman kacang tanah.
b)
Suhu udara bagi tanaman kacang tanah tidak terlalu sulit, karena suhu udara minimal bagi tumbuhnya kacang tanah sekitar 28–32 oC. Bila suhunya di bawah 10 oC menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, bahkan jadi kerdil dikarenakan pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
c)
Kelembaban udara untuk tanaman kacang tanah berkisar antara 65-75 %. Adanya curah hujan yang tinggi akan meningkatkan kelembaban terlalu tinggi di sekitar pertanaman.
d)
Penyinaran sinar matahari secara penuh amat dibutuhkan bagi tanaman kacang tanah, terutama kesuburan daun dan perkembangan besarnya kacang.
5.2. Media Tanam
a)
Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman kacang tanah adalah jenis tanah yang gembur/bertekstur ringan dan subur.
b)
Derajat keasaman tanah yang sesuai untuk budidaya kacang tanah adalah pH antara 6,0–6,5.
c)
Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati. Air yang diperlukan tanaman berasal dari mata air atau sumber air yang ada disekitar lokasi penanaman. Tanah berdrainase dan berserasi baik atau lahan yang tidak terlalu becek dan tidak terlalu kering, baik bagi pertumbuhan kacang tanah.
5.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman kacang tanah adalah pada ketinggian antara 500 m dpl. Jenis kacang tanah tertentu dapat ditanam pada ketinggian tempat tertentu untuk dapat tumbuh optimal.
6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
1) Persyaratan Benih
Syarat-syarat benih/bibit kacang tanah yang baik adalah:
a)
Berasal dari tanaman yang baru dan varietas unggul.
b)
Daya tumbuh yang tinggi (lebih dari 90 %) dan sehat.
c)
Kulit benih mengkilap, tidak keriput dan cacat.
d)
Murni atau tidak tercampur dengan varietas lain.
e)
Kadar air benih berkisar 9-12 %.
2) Penyiapan Benih
Penyiapan benih kacang tanah meliputi hal-hal sebagai berikut:
a)
Benih dilakukan secara generatif (biji).
b)
Benih sebaiknya tersimpan dalam kaleng kering dan tertutup rapat.
c)
Benih yang baik tersimpan dalam keadaan kering yang konstan.
d)
Benih diperoleh dari Balai Benih atau Penangkar Benih yang telah ditunjuk oleh Balai Sertifikasi Benih.
e)
Perkiraan kebutuhan benih dapat mengikuti rumus sebagai berikut:
B = a x b x c kg
100 x p x q
B = bobot benih (kg)
a = Jumlah benih/lubang;
b = Bibit per-1000 biji (g)
c = Lokasi yang akan ditanam (hektar)
p = Jarak antar barisan (m)
q = Jarak dalam barisan (m)
6.2. Pengolahan Media Tanam
1)
Persiapan
Pengukuran luas lahan sangat berguna untuk mengetahui berapa jumlah benih yang dibutuhkan. Kondisi lahan yang terpilih harus disesuaikan dengan persyaratan tanaman kacang tanah.
2)
Pembukaan Lahan
Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada. Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau, sapi, atau pun dengan mesin traktor. Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau oleh alat bajak dan alat garu sampai tanah siap untuk ditanami.
3)
Pembentukan Bedengan
Untuk memudahkan pengaturan penanaman dilakukan pembedengan sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan, yaitu untuk lereng agak curam jarak tanam cukup 0,5 m dan untuk lahan yang tidak begitu miring bisa antara 30–40 meter. Sedangkan untuk tanah datar, luas bedengan adalah 10 – 20 meter atau 2 x 10 meter. Ketebalan bedengan antara 20–30 cm.
4)
Pengapuran
Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam, perlu dilakukan pengapuran. Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran pada saat pembajakan adalah 1-2,5 ton/ha dicampurkan dan diaduk hingga merata. Selambat-lambatnya 1 bulan sebelum tanam.
5)
Pemberian pupuk hayati MiG-6PLUS saat pratanam (3hari sebelum tanam).
Berikan pupuk hayati MiG-6PLUS pada permukaan lahan dengan cara di semprot/disiramkan secara merata, dosis yang dibutuhkan adalah 2 liter per hektar. Pada lahan kering, aplikasi MiG-6PLUS sebaiknya pada sore hari.
6)
Pemupukan
Pemupukan adalah untuk menambah unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman. Jenis dan dosis pupuk setiap hektar yang dianjurkan adalah Urea=60–90 kg ditambah TSP=60–90 kg ditambah KCl=50 kg. Semua dosis pupuk diberikan pada saat tanam. Pupuk dimasukkan di kanan dan kiri lubang tugal dan tugal dibuat kira-kira 3 cm.
6.3. Teknik Penanaman
1)
Penentuan Pola Tanam
Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada tanah yang subur, benih kacang tanah ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 40 x 15 cm atau 30 x 20 cm. Pada tanah yang kurang subur dapat ditanam lebih rapat yaitu 40 x 10 cm atau 20 x 20 cm.
2)
Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat sedalam 3 cm dengan tugal dengan jarak seperti yang telah ditentukan di atas.
3)
Cara Penanaman
Pilih benih kacang yang telah memenuhi syarat benih bermutu tinggi. Masukan benih satu atau dua butir ke dalam lubang tanam dengan tanah tipis. Waktu tanam yang paling baik dilahan kering adalah pada awal musim hujan, di lahan sawah dapat dilakukan pada bulan April-Juni (palawija I) atau bulan Juli-September (palawija II). Sedangkan untuk lahan bukaan terlebih dahulu dilakukan inokulasi rhizobium (benih dicampur dengan inokulan dengan dosis 4 gram/kg) kemudian benih langsung ditanam paling lambat 6 jam.
6.4. Pemeliharaan Tanaman
1)
Penyulaman
Penyulaman dilakukan bila ada benih yang mati atau tidak tumbuh, untuk penyulaman waktunya lebih cepat lebih baik (setelah yang lain kelihatan tumbuh ± 3-7 hari setelah tanam).
2)
Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk menghindari hama dan penyakit tanaman. Juga agar tanaman yang ditanam tidak bersaing dengan tanaman liar (gulma) pada umur 5-7 hari.
3)
Pembubunan
Pembubunan dilakukan dengan cara mengumpulkan tanah di daerah barisan sehingga membentuk gundukan yang membentuk memanjang sepanjang barisan tanaman.
4)
Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan jenis dan dosis pupuk yang dianjurkan yaitu Urea=60-90 kg/ha ditambah TSP=60-90 kg/ha ditambah KCl=50 kg/ha. Semua dosis pupuk diberikan pada saat tanam dan pupuk dimasukan dikanan kiri lubang tunggal.
5)
Pemberian pupuk MiG-6PLUS pada saat pemeliharaan pada usia 3 minggu dan 6 minggu setelah tanam, apabila menggunakan benih berumur menengah atau panjang (90-120hari), diperlukan tambahan pupuk MiG-6PLUS pada usia 9 minggu. Pemberian masing-masing 2 liter per hektar.
Pemberian larutan MiG-6PLUS di tanah disekitar perakaran.
6)
Pengairan dan Penyiraman
Pengairan dilakukan agar tanah tetap lembab. Untuk menjaga kelembaban pada musim kemarau diberikan mulsa dan pada saat tanaman berbunga tidak dilakukan penyiraman, karena dapat menggganggu penyerbukan.
7)
Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan untuk mengusir ataupun memberantas hama tanaman hendaknya dilakukan pada sore atau malam hari. Obat yang digunakan maupun dosis sesuai dengan jenis hama yang menyerang tanaman tersebut.
8)
Pemeliharaan Lain
Hal-hal lain yang sangat menunjang faktor pemeliharaan bisa dilakukan, asalkan tidak memerlukan biaya yang berarti, misalnya pemangkasan, perambatan, pemeliharaan tunas dan bunga serta sanitasi lingkungan lahan (dijaga agar menunjang kesehatan tanaman).
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
a)
Uret
Gejala: memakan akar, batang bagian bawah dan polong akhirnya tanaman layu dan mati. Pengendalian: menanam serempak, penyiangan intensif, tanaman terserang dicabut dan uret dimusnahkan.
b)
Ulat berwarna
Gejala: daun terlipat menguning, akhirnya mengering. Pengendalian: penyemprotan insektisida Azodrin 15 W5C, Sevin 85 S atau Sevin 5 D. c) Ulat grapyak Gejala: ulat memakan epidermis daun dan tulang secara berkelompok. Pengendalian: (1) bersihkan gulma, menanam serentak, pergiliran tanaman; (2) penyemprotan insektisida lannate L, Azodrin 15 W5C.
c)
Ulat jengkal
Gejala: menyerang daun kacang tanah. Pengendalian: penyemprotan insektisida Basudin 60 EC Azodrin 15 W5C, Lannate L Sevin 85 S.
d)
Sikada
Gejala: menghisap cairan daun. Pengendalian: (1) penanaman serempak, pergiliran tanaman; (2) penyemprotan insektisida lannate 25 WP, Lebaycid 500 EC, Sevin 5D, Sevin 85 S, Supraciden 40 EC.
e)
Kumbang daun
Gejala: daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga. Pengendalian: (1) penanaman serentak; (2) penyemprotan Agnotion 50 EC, Azodrin 15 W5C, Diazeno 60 EC.
7.2. Penyakit
a)
Penyakit layu
Pengendalian: penyemprotan Streptonycin atau Agrimycin, 1 ha membutuhkan 0,5-1 liter. Agrimycin dalam kelarutan 200-400 liter/ha.
b)
Penyakit sapu setan
Pengendalian: tanaman dicabut, dibuang dan dimusnahkan, semua tanaman inang dibersihkan (sanitasi lingkungan).
c)
Penyakit bercak daun
Pengendalian: penyemprotan dengan bubur Bardeaux 1 % atau Dithane M 45, atau Deconil pada tanaman selesai berbunga, dengan interval penyemprotan 1 minggu atau 10 hari sekali.
d)
Penyakit mozaik
Pengendalian: penyemprotan dengan fungisida secara rutin 5-10 hari sekali sejak tanaman itu baru tumbuh.
e)
Penyakit gapong
Pengendalian: tanahnya didangir dan dicari nematodanya, kemudian baru diberi DD (Dichloropane Dichloropene 40-800 liter/ha per aplikasi.
f)
Penyakit Sclertium
Pengendalian: membakar tanaman yang terserang cendawan.
g)
Penyakit karat
Pengendalian: tanaman yang terserang dicabut dan dibakar serta semua vektor penularan harus dibasmi.
8. PANEN
8.1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen tanaman kacang tanah tergantung dari jenisnya yaitu umur pendek ± 3-4 bulan dan umur panjang ± 5-6 bulan. Adapun ciri-ciri kacang tanah sudah siap dipanen antara lain:
a)
Batang mulai mengeras.
b)
Daun menguning dan sebabian mulai berguguran, Polong sudah berisi penuh dan keras.
c)
Warna polong coklat kehitam-hitaman.
8.2. Cara Panen
Pencabutan tanaman, lalu memetik polong (buahnya) terus bersihkan dan dijemur matahari, memilih bila diperlukan untuk benih dan seterusnya dilakukan penyimpanan, untuk konsumsi bisa di pasarkan langsung atau bisa langsung dibuat berbagai jenis produk makanan.
8.3. Perkiraan Produksi
Jumlah produksi panen yang normal dalam satuan luas, misalnya untuk lahan seluas satu hektar produksi normal berkisar antara 1,5-2,5 ton polong kering.
9. PASCAPANEN
9.1. Pengumpulan
Kumpulkan brangkasan tanaman kacang tanah ditempat strategis.
9.2. Penyortiran dan Penggolongan
Pilah-pilah polong yang tua dan polong yang muda untuk dipisahkan berdasarkan derajat ketuaannya, lalu seleksi polong yang rusak atau busuk untuk dibuang.
9.3. Penyimpanan
a)
Penyimpanan dalam bentuk polong kering, masukan polong kering kedalam karung goni atau kaleng tertutup rapat lalu disimpan digudang penyimpanan yang tempatnya kering.
b)
Penyimpanan dalam bentuk biji kering.
c)
Kupas polong kacang tanah kering dengan tangan atau alat pengupas kacang tanah. Jemur (keringkan) biji kacang tanah hingga berkadar air 9% lalu masukan ke dalam wadah.
9.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan bisa dilakukan untuk produk mentah/polong mentah dalam bungkus plastik per 10 kg. Dapat juga berupa kemasan kue atau bentuk makanan yang sudah dimasak seperti kacang rebus, kacang goreng dan berbagai jenis kue dari kacang tanah. Untuk pengangkutan pada prinsipnya yang pentuing kondisi komoditi tersebut tidak rusak atau tidak berubah dari kualitas yang sudah disiapkan.
10. STANDAR PRODUKSI
10.1.Ruang Lingkup
Standar produksi kacang tanam meliputi: klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, pengemasan dan rekomondasi.
10.2.Diskripsi
Standar mutu kacang tanah di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-3921-1995.
10.3.Klasifikasi dan Syarat Mutu
Kacang tanah digolongkan dalam 3 jenis mutu: mutu I, mutu II dan mutu III
a) Syarat umum
1. Bebas hama penyakit.
2. Bebas bau busuk, asam, apek dan bau asing lainnya.
3. Bebas dari bahan kimia seperti insektisida dan fungisida.
4. Memiliki suhu normal.
b) Syarat khusus mutu kacang tanah biji (wose)
1. Kadar air maksimum (%): mutu I=6; mutu II=7; mutu III=8.
2. Butir rusak maksimum (%): mutu I=0; mutu II=1; mutu III=2.
3. Butir belah maksimum (%): mutu I=1; mutu II=5; mutu III=10.
4. Butir warna lain maksimum (%): mutu I=0; mutu II=2; mutu III=3.
5. Butir keriput maksimum (%): mutu I=0; mutu II=2; mutu III=4.
6. Kotoran maksimum (%): mutu I=0; mutu II=0,5; mutu III=3.
7. Diameter : mutu I minimum 8 mm; mutu II minimum 7 mm; mutu III maksimum 6mm.
c) Syarat khusus mutu kacang tanah polong (gelondong)
1. Kadar air maksimum (%): mutu I=8; mutu=9; mutu=9.
2. Kotoran maksimum (%): mutu I=1; mutu II=2; mutu III=3.
3. Polong keriput maksimum (%): mutu I=2; mutu II=3; mutu III=4.
4. Polong rusak maksimum (%): mutu I=0,5; mutu II=1; mutu III=2.
5. Polong biji satu maksimum (%): mutu I=3; mutu II=4; mutu III=5.
6. Rendemen minimum (%): mutu I=65; mutu II=62,5; mutu III=60.
Untuk mendapatkan hasil kacang tanah yang sesuai dengan syarat, maka harus dilakukan beberapa pengujian, yaitu:
a)
Penentuan adanya hama dan penyakit, bau dilakukan dengan cara organoleptik kecuali adanya bahan kimia dengan menggunakan indera penglihatan dan penciuman serta dibantu dengan peralatan dan cara yang diperoleh.
b)
Penentuan adanya butir rusak, butir warna lain, kotoran dan butir belah dilakukan dengan cara manual dengan pinset. Presentase butir warna lain, butir rusak, butir belah, butir keriput, dan kotoran ditetapkan berdasarkan berat masing-masing komponen dibandingkan dengan berat 100 %.
c)
Penentuan diameter dengan menggunakan alat pengukur dial caliper.
d)
Penentuan kadar air biji harus ditentukan dengan alat mouture tester electronic yang telah dikalibrasi atau dengan distilasi dengan toulen (AOAC 9254). Untuk mengukur kadar air, kacang tanah polong harus dikupas dahulu kulitnya, selanjutnya biji kacang tanahnya diukur kadar airnya.
e)
Penentuan suhu dengan alat termometer.
f)
Penentuan kadar aflatoksin.
10.4.Pengambilan Contoh
Contoh diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah karung, dengan maksimum 30 karung dari tiap partai barang. Kemudian dari tiap-tiap karung diambil contoh maksimum 500 gram. Contoh-contoh tersebut diaduk/dicampur sehingga merata, kemudian dibagi empat dan dua bagian diambil secara diagonal, cara ini dilakukan beberapa kali sampai mencapai contoh seberat 500 gram. Contoh ini disegel dan diberi label untuk dianalisa, berat contoh analisa untuk kacang wose 100 gram dan kacang tanah gelondong 200 gram. Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang telah berpengalaman atau dilatih lebih dahulu, dan mempunyai ikatan dengan suatu badan hukum dan mempunyai sertifikat yang dikeluarkan oleh badan yang berwenang.
10.5.Pengemasan
Kacang tanah dikemas dalam karung goni atau dari bahan lain yang sesuai kuat dan bersih dan mulutnyadijahit, berat netton setiap karung maksimum 75 kg, dan tahan mengalami handing baik pada pemuatan maupun pembongkaran. Di bagian luar karung (kecuali dalam bentuk curah) ditulis dengan bahan yang aman yang tidak luntur dengan jelas terbaca antara lain:
a) Produksi Indonesia.
b) Daerah asal produksi.
c) Nama dan mutu barang.
d) Nama perusahaan/pengekspor.
e) Berat bruto.
f) Berat netto.
g) Nomor karung.
h) Tujuan.

BUDIDAYA JERUK

 Budidaya Jeruk

Budidaya JerukKini jeruk sudah banyak ditanam di daerah tropis maupun subtropis. Jeruk manis biasanya ditanam di daerah 20-40 LU, & 20-40 LS, sedangkan di sekitar khatulistiwa dapat ditanam hingga ketinggian 2.000 m dari permukaan laut. Temperatur optimal untuk pertumbuhan pohon jeruk antara 25-30oC. Jeruk manis telah lama dikenal sebagai buah dengan rasa segar & penuh vitamin.
Selain kaya vitamin & mineral, jeruk juga mengandung serat makanan yang esensial bagi pertumbuhan & perkembangan tubuh normal. Dengan rasa has yang asam-asam manis, buah jeruk manis bisa kita konsumsi dalam berbagai bentuk, baik segar maupun dibuat sari buah atau jus. Jika ingin menanam atau budidaya jeruk di pekarangan rumah juga bisa, kita simak teknik serta caranya berikut:
Pemilihan areal uang benar untuk tanaman jeruk
1. Iklim
* Bisa ditanam di daerah antara 40_ LU-40_LS. Banyak terdapat pada daerah 20-40_LU & 20-40_LS.
* Untuk daerah tropis, dapat kita tanam di dataran rendah sampai ketinggian 650 m dpl.
* Di daerah katulistiwa dapat ditanam hingga ketinggian 2000 m dpl.
* Temperatur optimal 25-30_C.
* Cahaya matahari sangat penting untuk pertumbuhan jeruk sehingga jeruk manis yang ditanam di tempat terlindung pertumbuhannya kurang baik dan mudah terserang penyakit.
2. Tanah
# Ditanam pada berbagai jenis tanah mulai dari tanah berpasir atau juga tanah liat berat. Paling baik pada bekas endapan sungai.
# Tanaman jeruk dibituhkan cukup air terutama bila mulai berbunga, namun tidak tahan genangan, maka drainase harus baik. _ pH tanah 5-6.
Cara budidaya jeruk
1. Perbanyakan tanaman. Tanaman jeruk dapat kita perbanyak dengan cara generatif maupun dengan cara vegetatif.
2. Jarak tanam. Jeruk manis keprok siam 5 x 5 m. Jeruk manis valensia 6 x 6 hingga 8 x 8 m.
3. Lubang tanam
* Air dari bambu / kayu dipasang sesuai jarak tanam.
* buatlah lubang dengan ukuran 50 x 50 x 50cm atau 60 x 60 x 60cm.
* Pisahkan tanah lapisan atas (top soil) dan lapisan bawah (sub soil).
* Lubang sebaiknya dibuat saat musim kemarau.
* Lubang diisi dengan pupuk kandang 30 kg di tiap lubang, dicampur dengan tanah lapisan atas dan diaduk, dibiarkan dalam 2-4 minggu.
4. Penanaman
# Sebaiknya untuk penanaman dilakukan di awal musim hujan.
# Keranjang / polibag bibit dibuka dengan sangat hati-hati, usahakan agar tanah jangan pecah.
# Masukkan bibit pada lubang tanam.
5. Panen & pasca panen
+ Masa berbunga hingga menjadi buah masak sekitar 6 sampai 7 bulan tergantung varietas.
+ Tanaman jeruk dapat berbuah setelah berumur 3 tahun dan buah akan lebih banyak setelah umur tanaman lebih dari 5 tahun. Pemetikan buah bisa dilakukan pakai tangan ataupun gunting.
Berminat untuk budidaya jeruk ?? semoga teknik dan cara menanam yang benar diatas bisa

BUDIDAYA CABAI PAPRICA



 

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Paprika

Menurut klasifikasi dalam tata nama (sistem tumbuhan) tanaman paprika termasuk kedalam:
Divisi               : Spermatophyta  (tanaman berbiji)
Sub divisi        : Angiospermae (biji berada di dalam buah)
Kelas               : Dicotyledonae (biji berkeping dua atau biji belah)
Ordo                : Solanales
Famili              : Solanaceae (terung-terungan)
Genus              : Capsicum
Spesies            : Capsicum annuum L. var. grossum
(Cahyono, 2007)
Secara morfologi, bagian penting tanaman cabai paprika yaitu:
1.    Batang
                 Tanaman cabai paprika memiliki batang yang keras dan berkayu, berbentuk bulat, halus, berwarna hijau gelap, dan memiliki percabangan yang beruas-ruas serta setiap ruas ditumbuhi daun dan tunas. Percabangan pada tanaman paprika lebih rimbun dibandingkan dengan percabangan pada cabai rawit atau cabai jenis lain (Cahyono, 2007).
2.    Daun
Daun cabai paprika berbentuk bulat telur dengan ujung runcing dan tepi daun rata (tidak bergerigi/berlekuk). Daun merupakan daun tunggal dan memiliki tulang daun menyirip. Daun memiliki tangkai tunggal yang melekat pada batang atau cabang. Daun tanaman cabai paprika memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan daun tanaman cabai rawit (Cahyono, 2007).
3.    Bunga
Bunga cabai paprika merupakan bunga tunggal dan berbentuk bintang, dengan mahkota bunga berwarna putih. Bunga tumbuh menunduk pada ketiak daun. Penyerbukan bunga terjadi melalui penyerbukan sendiri namun dapat juga terjadi penyerbukan silang, dengan tingkat keberhasilan 56% (Cahyono, 2007).

4.    Buah
Buah akan terbentuk setelah terjadi penyerbukan. Buah cabai paprika memiliki keanekaragaman bentuk, ukuran, warna, dan rasa. Pada umumnya, buah cabai paprika berbentuk seperti tomat, tetapi lebih bulat dan pendek, atau berbentuk seperti bel dengan permukaan bergelombang. Buah paprika berongga pada bagian dalamnya. Ukuran buah bervariasi, ada yang ukuran besar, panjang, atau pendek. Buah berdaging tebal, agak manis dan tidak pedas, walaupun memiliki aroma pedas (Cahyono, 2007).
5.    Biji
Biji cabai paprika terdapat dalam jumlah sedikit, berbentuk bulat pipih dan berwarna putih kekuningan. Ukuran biji cabai paprika lebih besar dibandingkan dengan biji cabai rawit. Biji-biji ini dapat digunakan sebagai bibit dalam perbanyakan tanaman (Cahyono, 2007).
6.    Akar
Tanaman cabai paprika memiliki akar tunggang yang tumbuh lurus ke pusat bumi dan serabut akar yang tumbuh menyebar ke samping. Perakaran tanaman tidak dalam, dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang gembur, porous, dan subur (Cahyono, 2007).

2.2  Syarat Tumbuh Tanaman Paprika

1.      Keadaan iklim
Keadaan iklim yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman paprika  meliputi suhu, kelembapan udara, curah hujan, dan cahaya matahari.
a.       Suhu
Tanaman cabai paprika dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi pada suhu 21oC – 27oC pada siang hari dan 13oC – 16oC pada malam hari. Suhu yang tinggi dapat menyebabkan gugur bunga, gugur buah, dan gugur tunas. Tanaman paprika masih dapat tumbuh pada suhu 30oC, namun pada suhu 38oC  pada siang hari dan 32oC pada malam hari, semua bunga dan bakal buah gugur (Cahyono, 2007).



b.      Kelembapan Udara
Agar dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi, tanaman cabai paprika memerlukan kelembapan udara sekitar 80%.Kelembapan udara juga mempengaruhi proses penyerapan unsur hara, terutama unsur N dan P
(Cahyono, 2007).
c.       Curah Hujan
 Curah hujan yang sesuai untuk tanaman cabai paprika adalah sekitar 250 mm/bulan. Di daerah yang memiliki curah hujan tinggi, tanaman cabai paprika masih bisa berproduksi dengan baik, jika disertai dengan drainase yang baik dan jarak tanam yang lebih renggang (Cahyono, 2007).
2.       Keadaan Tanah
Jenis tanah yang paling cocok untuk budidaya cabai paprika adalah tanah mediteran dan aluvial. Selain sifat-sifat fisik, kimia dan biologi yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah ketinggian tempat dan derajat kemiringan (Cahyono, 2007).
a.       Sifat Fisik, Kimia, dan Biologi Tanah
Sifat fisik tanah yang harus diperhatikan dalam budidaya cabai paprika adalah tekstur dan struktur tanah. Tanah yang sesuai untuk budidaya tanaman cabai paprika adalah tanah lempung berpasir atau liat berpasir dan tanah yang memiliki struktur remah atau gembur.
Sifat kimia tanah yang harus diperhatikan adalah derajat keasaman tanah dan salinitas. Derajat keasaman tanah yang cocok bagi pertumbuhan tanaman cabai paprika berkisar antara 6,0 – 7,0 dan pH optimal adalah 6,5.
Sifat biologi tanah yang harus diperhatikan adalah kandungan bahan organik tanah serta jumlah dan aktivitas organisme tanah. Jika banyak mengandung bahan organik dan organisme tanah, maka tanah akan memiliki sifat biologi yang baik (Cahyono, 2007).
b.      Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, pembentukan hasil, dan masa panen. Lahan yang baik untuk budidaya tanaman paprika adalah dataran tinggi yang memiliki ketinggian lebih dari 700 m dpl. Sedangkan yang paling baik adalah dataran dengan ketinggian 1.000 m – 1.500 m dpl (Cahyono, 2007).

2.3  Teknik Budidaya

2.3.1 Persiapan Rumah Tanaman

Pada umumnya petani paprika di Indonesia menggunakan rumah tanaman yang rangkanya terbuat dari bambu. Untuk kondisi yang suhunya relatif tinggi, dinding rumah tanaman yang paling cocok adalah yang terbuat dari bahan kasa nilon. Rumah tanaman hendaknya berarah Timur- Barat, searah dengan perjalanan sinar matahari. Ukuran luas satu bangunan rumah kasa maksimal 1000 m2
(Gunadiet al., 2006).

2.3.2   Pemilihan Varietas

Ada beberapa varietas paprika yang saat ini ada di pasaran. Varietas paprika yang berwarna merah antaralain adalah Edison, Chang, Spartacus, Athena dan Spider. Selain itu ada varietas yang berwarna kuning antaralain Sunny, Capino, Goldflame dan Manzania. Sedangkan yang berwarna orange antaralain Magno dan Leon. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih kultivar yaitu berdasarkan bobot buah dan bentuk buah (Tabel 1 dan 2).

Tabel 1. Varietas Paprika Berdasarkan Bobot Buah
Bobot Buah (gram)
Varietas
150-200
Edison, Spider
>200
Chang, Spartacus dan Athena
Sumber : Moekasan et al. (2008)
Tabel 2. Varietas Paprika Berdasarkan Bentuk Buah
Bentuk Buah
Kultivar
Blok (blocky) atau Lonceng (bell)
Athena, Spartacus, Edison, Sunny, Magno, Goldflame
Lonjong (lamujo)
Chang, Capino
Sumber : Moekasan et al. (2008)



2.3.3        Persemaian

Penyemaian benih paprika dapat dilakukan di baki persemaian atau di tempat persemaian lainnya. Media yang dapat digunakan adalah arang sekam danrockwool. Setelah benih dimasukan pada media semai dan ditutup dengan kertas tisu maka baki persemaian disimpan di dalam lemari persemaian pada suhu
20-25 oCdengan kelembaban udara 70-90%. Pada umur lima sampai tujuh hari setelah semai, kertas tisu dibuka dan lampu pada lemari persemaian mulai dinyalakan. Pada saat tanaman berumur 12-15 hari setelah semai, tanaman dipindahakan ke dalam polibag pembibitan dan ditempatkan diluar lemari persemaian. Pada hari ke-4 setelah bibit dipindahkan ke polibag pembibitan, bibit tersebut disiram dengan larutan hara AB Mix dengan EC 1,5 mS/cm sebanyak

3-4 kali sehari (Moekasan, 2002).

2.3.4        Persiapan Tanam

1.    Media dan wadah tanam
Media tanam yang dapat digunakan untuk paprika adalah arang sekam, rockwool, sabut kelapa dan pasir. Wadah yang dapat digunakan adalah polibag dengan diameter 30 cm atau slab (bantalan) ukuran 0,8 m x 0,25 m. Pada setiap slab dibuat 2 lubang tanam dengan jarak 30, 40 atau 50 cm dan jarak antar barisan 100-120 cm (Moekasan et al., 2008).
2.        Persiapan dan pemeliharaan rumah tanaman
Lantai rumah tanaman harus dilapisi dengan plastik mulsa. Pada tujuh hari sebelum penanaman, dilakukan sterilisasi rumah tanaman dengan penyemprotan  Formalin 3% pada dinding, tanah dan mulsa pastik dan pada tiga hari sebelum tanam, media tanam disemprot dengan insektisida Fipronil (1,5 ml/l) serta dijenuhkan dengan larutan hara (EC 1,5) (Gunawan, 2007).

2.3.5        Penanaman

            Sehari sebelum penanaman, harus dilakukan penjenuhan media tanam dengan pupuk AB Mix pH 5,8 dan EC 2. Jika pada tiap tanaman akan dibentuk
2 cabang utama maka setiap polibagditanami 2 tanaman atau kalau menggunakan slab maka setiap slab ditanamai 4 tanaman dengan jarak 1,1 -1,2 m dan jarak dalam barisan 0,4-0,5 m sedangkan jika akan dibentuk 3-4 cabang utama per tanaman, maka setiap polibag ditanami 1 tanaman atau setiap slab ditanami
2 tanaman dengan jarak antar barisan 1,1 – 1,2 m dan jarak dalam barisan 0,3 m (Moekasanet al., 2008).

2.3.6        Pemeliharaan Tanaman

1.    Pemasangan Penyangga Tanaman(pengajiran)
Pengajiran dilakukan saat tanaman berumur 1- 2 minggu dengan menggunakan tali rami yang ujungnya diikatkan ke kawat horizontal di langit-langit greenhouse.
2.    Penyiraman dan Pemupukan
Penyiraman dan pemberian hara pada sistem tanaman hidroponik dilakukan bersama-sama, yang dikenal dengan istilah fertigasi. Penyiraman dan pemberian hara pada tanaman paprika dapat dilakukan secara manual (Tabel 3) dan secara irigasi tetes (Tabel 4).
Tabel 3.  Pemberian Hara pada Tanaman Paprika secara Manual
Umur tanaman (MST)
Waktu pemberian (WIB)
Volume (ml/tan)
EC (mS/cm)
Suhu < 30
Kelembaban > 50%
Suhu > 30
Kelembaban < 50%
Masuk
Keluar
1 - < 6
(fase vegetativ I)
07.00
09.00
11.00
13.00
15.00
07.00
09.00
10.30
12.00
13.30
15.00
100
100
100
100
100
100
1,6-1,7
1,6-1,7
1,6-1,7
1,6-1,7
1,6-1,7
1,6-1,7
1,3-1,8
1,3-1,8
1,3-1,8
1,3-1,8
1,3-1,8
1,3-1,8
6 – 8
(fase vegetatif II/berbunga dan mulai berbuah)
07.00
09.00
11.00
13.00
15.00
07.00
09.00
10.30
12.00
13.30
15.00
150
150
150
150
150
150
1,8-1,9
1,8-1,9
1,8-1,9
1,8-1,9
1,8-1,9
1,8-1,9
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
>8
(fase generatif / pematangan buah
07.00
09.00
11.00
13.00
15.00
07.00
09.00
10.30
12.00
13.30
15.00
250
250
250
250
250
250
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,0-2,1
2,1-2,2
2,1-2,2
2,1-2,2
2,1-2,2
2,1-2,2
2,1-2,2
Sumber : Moekasan (2002)
Keterangan : MST = Minggu setelah tanam
                      EC    = Electro conductivity

Tabel 4. Pemberian Hara pada Tanaman Paprika secara Irigasi Tetes
Umur tanaman
Volume (ml/tanaman/hari)
EC
masuk
Keluar
Fase vegetatif I
(1- < 6 MST)
600
1,6 – 1,7
1,3 – 1,8
Fase vegetatif II
(> 6 – 8 MST) berbunga dan mulai berbuah
900
1,8 – 1,9
2,0 – 2,1
Fase generatif (>8 MST) pematangan buah
1.500
2 – 2,1
2,1 – 2,2
 Sumber : Gunadi et al. (2006)

Pada saat ini, pupuk untuk tanaman paprika sudah tersedia di pasaran dalam bentuk siap pakai yang terdiri atas dua campuran yaitu pupuk A dan B, disebut dengan AB Mix. Kandungan unsur hara dalam pupuk AB Mix untuk tanaman paprika (Tabel 5).

Tabel 5. Kandungan Unsur Hara Pupuk AB Mix
No.
Nama Unsur
Kandungan unsur
Bobot (g)

Pupuk A
1.

2.
3.
Kalsium ammonium nitrat (CaNO3)2
Kalium nitrat (KNO3)
Fe-kelat (Fe-EDTA 13%)
Ca = 18%, N-NO3 = 14,2%, N-NO4 =1,3%
K = 39%, N-NO3 = 14%
Fe = 13,2%
12.000

5.000
   100
Jumalah A
17.100

Pupuk B
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Kalium di-hidro fosfat (KH2PO4)
Ammonium sulfat (NH4)2SO4
Kalium sulfat (K2SO4)
Magnesium sulfat (MgSO4.7H2O)
Mangan sulfat (MnSO4-4H2
Tembaga sulfat (MnSO4.4H2O)
Seng sulfat (ZnSO4.7H2O)
Asam Borat (H3BO3)
Ammonium hepta-molibdat (NH4)6Mo7O24.4H2O
K = 28,7%, P = 22,8%
N-NH4 = 21%, S = 24%
K = 44,8%, S = 18%
Mg = 9,7%, S = 13%
Mn = 25%
Cu = 26%
Zn = 23%
B = 18%
Mo = 50%
5.000
2.000
7.000
7.000
   150
       8
     27
     75
       3
Jumlah B
21.263
Jumlah A + B
38.363
Sumber : Moekasan (2002)


3.    Pemasangan Perangkap Organisme Pengganggu Serangga (OPT)
Pada umumnya serangga hama tertarik kepada warna kuning, tetapi thrips lebih tertarik kepada warna biru dan putih (Terry, 1997 dalam Moekasan, 2008). Oleh karena itu perangkap berwarna kuning, putih atau biru dapat digunakan untuk memerangkap serangga hama. Perangkap lekat warna biru, putih atau kuning, sebanyak 1 buah per 2 m2 dipasang sejak penanaman. Perangakap tersebut dipasang di atas kanopi tanaman (Moekasanet al., 2008).
4.    Pemasangan Serbuk Belerang
Untuk mencegah serangan penyakit tepung dipasang serbuk belerang yang diletakan pada belahan bambu sebanyak 1 belahan bambu per 2 m2. Dapat pula dilakukan pengasapan dengan pembakaran serbuk belerang seminggu sekali. Pengasapan harus dilakukan stelah pukul 17.00. Jika pengasapan menggunakan alat sulfur, evaporator cukup dipasang 1 buah untuk greenhouse seluas 500 m2. Alat ini hanya dinyalakan pada malam hari selama 4 jam mulai pukul 19.00 setiap hari (Moekasanet al., 2008).
5.    Pembentukan Cabang Utama
Tanaman paprika membentuk cabang ketika berumur 3-4 minggu setelah tanam. Ditetapkan hanya dua atau tiga cabang utama yang dipelihara dalam satu tanaman (Cahyono, 2007).
6.    Seleksi Buah
Seleksi buah adalah membuang buah yang pertumbuhannya kurang baik dan memelihara buah yang tumbuh dengan baik. Seleksi buah dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil dan mutu yang optimal.
Penyeleksian buah pertama dilakukan pada umur 6 – 7 MST. Buah yang tumbuh berdempetan salah satunya harus dibuang. Pada umur 8 – 10 MST dilakukan penyeleksian buah kedua dengan menyisakan sebanyak 3 – 4 buah per pohon (Moekasan, 2002).




7.    Pemangkasan Tunas Air
Pemangkasan tunas air (pewiwilan) dilakukan sesuai dengan kebutuhan, paling cepat dilakukan seminggu sekali. Ketika melakukan pewiwilan, tangan pekerja harus dilumuri lebih dahulu dengan larutan susu skim (tanpa lemak) dengan konsentrasi 200 g/l. Setiap berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain, tangan pekerja selalu harus dicelupkan kedalam larutan susu tersebut. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus (Moekasan et al., 2008).

8.    Pengendalian Hama dan Penyakit
Metode pengendalian hama dan penyakit yang dianggap paling efektif adalah menggunakan bahan kimia atau pestisida kimia. Penggunaan pestisida berdasarkan konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada tanaman paprika harus berdasarkan pada enam tepat, yaitu tepat sasaran, tepat mutu, tepat jenis pestisida, tepat waktu, tepat dosis atau tepat konsentrasi dan tepat cara penggunaan (Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, 2002).
1)   Tepat sasaran
Pestisida yang digunakan harus berdasarkan pada jenis OPT (organisme pengganggu tanaman) tersebut. Insektisida digunakan untuk mengendalikan serangan hama, akarisida untuk mengendalikan tungau, fungisida untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur, nematisida untuk mengendalikan nematode, rodentisida untuk mengendalikan tikus, bakterisida untuk mengendalikan bakteri dan herbisida untuk mengendalikan gulma.
2)   Tepat mutu
Pestisida yang digunakan harus bermutu bahan aktifnya. Oleh karena itu dipilih pestisida yang terdaftar dan diijinkan oleh Komisi Pestisida.
3)   Tepat jenis pestisida
Pestisida yang digunakan harus diketahui efektif terhadap hama dan penyakit sasaran tetapi tidak menggangu perkembangan dan peranan organisme berguna.



4)   Tepat waktu penggunaan
Waktu yang tepat untuk melakukan penyemprotan adalah pada sore hari sekitar pukul 17.00 ketika suhu udara kurang dari 30 0C dan kelembaban udara berkisar antara 50-80%.
5)   Tepat dosis atau konsentrasi
Dosis atau konsentrasi formulasi pestisida yang lebih rendah atau lebih tinggi dari yang dianjurkan akan memicu timbulnya generasi organisme pengganggu tanaman yang akan kebal terhadap pestisida yang digunakan. Dengan demikian penggunaan dosis atau konsentrasi formulasi harus sesuai yang direkomendasikan pada label kemasannya.
6)   Tepat cara penggunaan
Cara aplikasi pestisida yang umum digunakan pada tanaman paprika adalah disemprotkan.
Beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang dan mengakibatkan kerugian besar pada produksi cabai paprika adalah sebagai berikut:
1.    Hama
a.    Trips (Thrips capsici)
Trips menyerang daun-daun muda, dengan cara menggaruk dan mengisap cairan daun. Gejala serangan ditandai dengan bagian bawah daun yang terserang berwarna keperakan, selanjutnya berubah menjadi kecoklatan. Daun tampak keriput, keriting dan melengkung ke atas. Di samping menyerang daun, hama trips dapat pula menyerang buah paprika sehingga dapat menurunkan kualitas buah.
Pengendalian trips pada tanaman paprika dapat dilakukan dengan sistem pengendalian hama terpadu yaitu dengan cara penggunaan mulsa plastik hitam perak, pembuangan mahkota bunga dan penjarangan buah serta penyemprotan insektisida (Moekasan et al., 2008).
b.    Ulat grayak (Spodoptera litura F.)
Ulat grayak mempunyai warna yang bervariasi tergantung pada jenis makanannya, tetapi cirri utama ulat grayak adalah terdapatnya kalung hitam pada segmen abdomen yang keempat. Gejala serangannya ditandai dengan ulat muda memakan daun dengan meninggalkan epidermis sehingga daun menjadi transparan. Ulat tua memakan seluruh bagian daun dan yang ditinggalkan hanya tulang daunnya saja (Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, 2006).
Menurut Harpenas dan Dermawan, 2009 bahwa pengendalian ulat grayak pada tanaman paprika yang dilakukan dengan sistem PHT adalah sebagai berikut:
1)   Mekanis, yaitu dengan mengumpulkan kelompok telur dan larva, kemudian dimusnahkan.
2)   Kutur teknis, yaitu menjaga kebersihan kebun dari gulma dan sisa-sisa tanaman yang menjadi tempat persembunyian hama serta melakukan rotasi tanaman.
3)   Kimiawi, yaitu penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis, seperti Dipel, Florbac, Bactospeine, dan Thuricidae.
c.    Tungau teh kuning (Polyphagotarsonemus latus)
Gejala serangan ditandai dengan timbulnya warna seperti tembaga pada permukaan bawah daun, tepi daun mengeriting, daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah. Pada serangan berat, tunas dan bunga gugur.
Jika intensitas serangan tungau telah mencapai ambang pengendalian yaitu kerusakan tanaman sebesar 15% maka tanaman paprika disemprot dengan akarisida, yang efektif seperti Propargit (Omite 570 EC) dan Dikofol (Kelthane 200 EC) (Moekasan et al., 2008).
d.   Kutu daun persik (Myzus persicae)
Kutu daun persik disebut pula kutu daun tembakau. Kutu daun menyerang daun-daun muda dengan cara menusuk dan menghisap cairan daun. Gejala serangannya adalah daun keriput, terpelintir dan berwarna kekuningan. Jika populasi kutu daun persik telah mencapai ambang pengendalian, yaitu
7 ekor/10 daun, maka pertanaman disemprot dengan insektisida Fipronil (Regent 50 EC) atau Alfametrin (Fastac 15 EC) (Gunadi et al.,2006).
e.    Lalat penggorok daun (Liriomyza sp.)
Lalat penggorok daun bersifat polifag. Serangan serangga dewasa pada daun ditandai oleh bercak-bercak putih. Serangan berat akan mengakibatkan daun mengering seperti terbakar. Pengendalian dengan sistem PHT dilakukan dengan pemasangan perangkap lekat warna kuning di atas kanopi tanaman dan penggunaan insektisida yang selektif dan efektif seperti Kartap Hidroksida atau Siromazin (Moekasan et al., 2008).
2.    Penyakit
a.    Penyakit tepung
Penyakit tepung disebabkan oleh cendawan Oidiopsis capsici. Gejala serangan ditandai dengan adanya lapisan tepung berwarna putih terutama menempel pada bawah daun.
Penyebaran atau penularan penyakit tepung dapat terjadi melalui angin, peralatan pertanian yang telah terinfeksi. Pengendalian dapat dilakukan dengan pemasangan dan pengasapan dengan pembakaran serbuk belerang, penyemprotan fungisisda yang berbahan aktif Fenarimol atau Heksakonazol (Moekasan, 2002).
b.    Penyakit layu fusarium
Penyakit layu fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium spp. Gejala serangan ditandai dengan layunya tanaman mulai dari bagian bawah. Anak tulang daun menguning dan bila terinfeksi terus berkembang, dalam dua sampai tiga hari setelah infeksi tanaman akan menjadi layu. Tanaman paprika yang terserang penyakit layu fusarium segera dicabut dan dimusnahkan. Fungisida yang efektif dan dianjurkan adalah Benomil (Benlate) atau Klorotanil (Daconil 75 WP). Larutan fungisida tersebut disiramkan ke perakaran dengan dosis 100 ml per polibag (Moekasan, 2002).
c.    Penyakit bercak buah (Colletotrichum spp.)
Bercak buah cabai sering disebut penyakit antraknos atau patek. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum spp.Gejala awal serangan ditandai dengan terbentuknya bercak cokelat – kehitaman, kemudian meluas menjadi busuk lunak. Tanaman yang terserang harus segera dimusnahkan. Penyemprotan pestisida dapat dilakukan dengan fungisida seperti Antracol, Dithane M-45, dan Daconil (Harpenas dan Dermawan, 2009).

2.3.7        Panen dan Pascapanen

1)   Panen
Menurut Gunadi et al. (2006), waktu panen tanaman paprika tergantung pada kondisi pertanaman, biasanya tanaman paprika dapat dipanen mulai umur
2 sampai 2,5 bulan. Paprika dipanen bila buahnya telah mencapai ukuran maksimal, hampir matang, tetapi warnanya masih hijau.
Menurut Hadinata (2004), paprika hendaknya dipanen pada pagi hari ketika suhu udara di dalam rumah kasa masih rendah dan kelembaban udara masih cukup tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi penguapan agar buah tidak layu atau keriput. Pemanenan hendaknya menggunakan pisau atau gunting yang tajam dan sebelum digunakan dicelupkan terlebih dahulu ke dalam larutan susu skim.
2)   Pascapanen
a.    Sortasi dan Grading
Sortasi merupakan kegiatan untuk memisakan buah cabai paprika yang sehat dari buah cabai paprika yang rusak. Dari hasil sortasi tersebut kemudian dilakukan pengelompokan buah cabai paprika menjadi beberapa kelas mutu (grading) berdasarkan standar mutu, menurut ukuran buah dan tingkat kerusakan buah. Hadinata (2004) menyatakan bahwa ada empat kategori ukuran buah paprika (Tabel 6).

Tabel 6. Ukuran Buah Paprika
Kategori
Diameter (cm) buah
Bobot(gram) buah
Kecil
6,5 – 8
120 – 160
Sedang
>8 – 9,5
> 160 – 200
Besar
>9,5 – 11
>200 – 250
Sangat besar
>11
>250

b.    Pengemasan dan Pengangkutan
Paprika dapat dikemas dalam kotak karton berventilasi dengan kapasitas
5 kg.  Jika paprika akan dikirim ke tempat yang jauh, kendaraan yang digunkan adalah kendaraan berpendingin (7 – 12 oC) agar kesegaran buah tetap terjaga (Moekasan et al., 2008).